Eh nyoba review buku ah. Fitur ini udah lama ada di MP, tapi kok Angki baru sempet ya review buku sekarang. Ya proses
nyeken koper buku yang jadi alasan utama. Nah poto ini aja dapet dari
http://www.walhi.or.id. THX
Cerita ini berlatar kota Bandung tahun 1920-an. Buku ini, adalah buku yang menurut Angki merupakan lintas budaya dan lintas benua. Kenapa eh Kenapa? Karena eh karena, Parijs van Java ini menceritakan Getruda yang tertipu dengan dalih menjadi perawat di Hindia-Belanda a.k.a Indonesia. Ternyata dia malah dijadikan pelacur. Beda tipis ama kasus Trafficking TKW ituh :D
Istilah Kota Kembang untuk Bandung oleh Remy Sylado di sini adalah ditujukan oleh banyaknya pelacuran/persundalan yang memang "dibuat" oleh Belanda. Angki jadi tahu dan akhirnya maklum ketika kasus Bandung Lautan
Api Asmara yang heboh oleh mahasiswa ITENAS ituh.
Satu hal yang unik dari novel-novel Remy Sylado ialah, aktualisasi bahasa Ibu di novelnya. Di buku ini Remy banyak berbicara dalam bahasa Belanda. Dan bahasa Belanda tersebut banyak tertuang dalam puisi atau nasehat orang Belanda yang kata Remy Sylado adalah bahasa yang indah. Bahasa Italia juga nampang di buku ini. Bahasa Itali itu muncul di kapal pesiar yang membawa Getruda berlayar menuju Hindia-Belanda.
Pokok'e buku Remy Sylado g' ada matinya euyy..!!!